Selasa, 23 Maret 2010

Kado Empat Cewek

Diposting oleh riska di 21.08 0 komentar

“Ya, saya tawarkan diary ini dengan harga awal dua puluh ribu rupiah!” teriaknya lantang.

Keempat cewek ini kompak banget. Dina, Rina, Tina, dan Mirna ke mana-mana selalu berempat.
Kalo ke kantin pasti ketemu dengan empat cewek ini, ke perpustakaan juga begitu, ke lapangan basket juga, bahkan sampai ke kamar kecil sekali pun pasti ada empat makhluk-makhluk manis ini. Aku sih geleng-geleng kepala aja setiap kali bertemu mereka.
Mereka kerap aku undang ke acara OSIS, dan enaknya, kalau yang satu mau, yang lainnya pasti ikutan. Jadi lumayan, ngundang satu dapat empat. He he he, kayak sale aja.
Tapi belakangan, aku melihat ada perubahan pada keempat cewek kompak itu. Mereka memang masih ke mana-mana berempat, tapi di raut wajah mereka ada yang berubah, tak lagi tersenyum bersama, melainkan seperti menyimpan misteri sendiri-sendiri. Ada apa ya?
Rupanya, setelah aku dapat info dari salah seorang dari mereka, diam-diam empat cewek ini lagi naksir seorang cowok. Salah satu dari mereka yaitu Dina, bercerita kepadaku.
Katanya, yang awalnya naksir, Mirna, tapi karena sudah kebiasaan, yang lainnya ikut memperhatikan sang cowok dan ujung-ujungnya empat-empatnya jadi ikutan naksir. Tentu aja, yang begini nggak bisa dilakukan secara bersamaan. Masalah cinta nggak kenal istilah kompak-kompakan. Karena jatuh cinta adalah masalah hati, dan yang namanya hati punya rahasia sendiri-sendiri. Iya kan?
Dan jujur aja, untuk yang kayak begini aku nggak bisa ngasih solusi apa-apa, wong aku sendiri nggak pernah naksir orang, kok. Apalagi sampe jatuh cinta. Paling aku bilang pada Dina, sebaiknya konsentrasikan diri pada pelajaran, nanti masalah itu bisa terlupakan dengan sendirinya. Tapi Dina bilang, justru ia nggak bisa belajar dengan konsentrasi kalau nggak ingat sama cowok itu. Duile segitunya!
Tapi besoknya aku dengar dari Dina lagi kalo keempat cewek itu sudah membuat kebulatan tekad.
“Hmm, gini deh, kalo kita mau memepertahankan kebersamaan kita, di antara kita tidak ada yang boleh naksir sama cowok itu lagi!” cerita Dina padaku.
“Setuju!” teriak tiga lainya, masih menurut cerita Dina.
Hmm, menurutku hebat. Mereka lebih memilih kebersamaan daripada harus pecah gara-gara seorang cowok ganteng.
Tapi apa iya mereka bisa kompak begitu? Rasanya kalau untuk naksir-naksiran, siapa pun nggak ada yang bisa dipercaya. Buktiin, deh. Soalnya sekarang si Dina, mendatangiku lagi dan bilang bahwa dia betul-betul tidak bisa melupakan bayangan si cowok itu.
“Dia ulang tahun, boleh nggak saya ngasih kado?” ujarnya memohon pendapatku.
“Ya, kalo cuma mau ngasih kado sih boleh-boleh aja. Kenapa tidak?” Ucapku.
“Hmm, jadi nggak apa-apa?”
“Emangnya kenapa?” pancingku
“Ya, kita kan udah janjian nggak mau naksir cowok itu lagi?”
“Memberi kado kan bukan menunjukkan bahwa kita naksir?”
“Tapi,” kata Dina dalam hatinya (kok aku bisa tau suara hatinya? He he he) “Aku ngasih kado ini karena sebetulnya masih naksir dia, dan sulit sekali melupakannya. Eh kamu janji ya, jangan bilang-bilang ke ketiga temanku itu kalo aku ngasih kado ke cowok itu.” sergah Dina lagi.
“Apa pernah aku cerita-cerita?” kayaknya dia nggak percaya sama reputasiku.
“Enggak, sih?”

***

Besoknya keempat cewek itu sudah mulai akrab lagi. Tapi pada hari yang sama, tepatnya di sore harinya, cowok yang mereka taksir itu datang kepadaku. Katanya dia mau melelang barang-barang yang merupakan kado-kado dari hasil pemberian beberapa orang. Hasil lelangnya itu akan disumbangkan ke kegiatan OSIS sekolah. Wah, boleh juga, tuh.
“Barangnya apa aja?” tanyaku.
Kemudian aku bersama teman-teman pengurus OSIS, diajak ke sebuah mobil yang terparkir di luar pagar sekolah. Ketika bagasinya dibuka, aku lihat banyak sekali barang yang ia tawarkan tapi masih berupa bungkusan kado.
“Yang mana yang mau dilelang?” tanyaku sedikit terheran.
“Semuanya….” jawab si si cowok kiyut itu.
Karena semua masih dibungkus dalam kertas kado, kita tidak tahu jangan-jangan ada hadiah yang sangat mahal harganya? Atau jangan-jangan ada yang isinya bom? He he he
“Nggak diperiksa dulu, atau dipilih-pilih yang mana yang kira-kira bisa dilelang dan yang mana yang bisa digunakan untuk pribadi?”
Si cowok cakep ini menekankan, “semuanya, dan tidak perlu diperiksa.”
Wah, wah, hebat juga nih cowok. Dalam hatiku, enak sekali jadi cowok ganteng ya, tiap ultah banyak yang ngasih kado. Padahal setahuku si cowok ini nggak bikin pesta, kado terus aja mengalir.
Aku tentu saja beterima kasih padanya. Si cowok ini lumayan sosial. Dia nggak gitu aktif di OSIS, tapi setahuku dia lumayan sering hadir di acara-acara OSIS. Diam-diam aku sempat memperhatikan sosoknya, dan menurutku sih wajar aja banyak orang (terutama cewek-cewek di sekolah ini) yang berusaha menarik perhatiannya dengan memberikan kado pada HUT-nya itu. Selain orangnya cakep, mudah bergaul, murah senyum, nggak sombong, dan ya itu tadi, punya jiwa sosial yang tinggi.
“Aku sudah bilang kepada mereka, bahwa kado-kado ini bebas aku apain aja, dan sekarang aku mau lelang,” ujar si cowok sebelum meninggalkan ruang OSIS. “Kalo dilelang, kita bisa dapat harga lebih tinggi, selain itu uang yang masuk bisa lebih mudah dimanfaatkan daripada kado-kado yang masih berupa barang. Misalnya ada yang ngasih kado jam tangan, nah buat apa jam tangan itu, mau ditaroh di dinding ruang OSIS?” Katanya sambil nyengir.
Aku manggut-manggut. Betul juga. Soalnya aku nggak gitu tahu isi kado-kado itu, sih. Makanya tadi kan aku ngasih saran supaya diperiksa dulu isinya. Ternyata dia berniat untuk melelang semuanya.
Akhirnya aku bersama pengurus OSIS sepakat bikin acara lelang. Semua anak sekolah diperbolehkan datang. Sehari sebelum lelang aku bikin pengumuman.
“Eh, lelang barang kado ultah? Apa maksudnya?” tanya Dina kaget.
Aku menceritakan kejadiannya, dan tentu saja Dina makin kaget. “Tapi… nama pengirim kadonya disebutin nggak?” ujarnya sedikit ketakutan.
“Ya, enggak tau juga, ya, soalnya dia sendiri yang mau ngelelang barang-barang itu…” ujarku.
Dina manggut-manggut.
Pada kenyataanya, si cowok menyebutkan semua barang-barang yang dilelang berikut nama si pemberi barang, karena dia hapal betul nama-nama si pemberi hadiah itu. Misalnya saja ketika ia mengangkat sebuah diary mungil, dia langsung bilang terima kasih pada Anti, yang sudah memberikan buku itu, tapi bukannya bermaksud merendahkan pemberian itu, tapi justru dengan melelangnya, diary ini jadi lebih berarti, “Ya, saya tawarkan diary ini dengan harga awal dua puluh ribu rupiah!” teriaknya lantang.
Maka serentaklah orang-orang (kebanyakan cewek-cewek) mengangkat tangan, yang memberi harga variatif, mulai dua puluh lima ribu, lalu tiga puluh ribu, lalu lima puluh ribu, sampai ada seseorang yang berani membelinya dengan harga, “Seratus ribu!”
“Ada lagi?” pancing si cowok.
Tidak ada lagi yang menunjuk tangan kecuali Anti. Lalu Anti maju ke depan dan menyerahkan uang seratus ribu pada si cowok, dan mengambil diary mungil itu. Dia mendekati si cowok dan meminta tanda tangan pada diary tersebut. Lalu memeluk diary itu dengan hangat.
Aneh, aku betul-betul geleng-geleng kepala. Bukunya sendiri yang dijadikan kado lalu dibelinya lagi dengan harga tinggi. Hi hi hi.
“Selanjutnya ada jam tangan, ini pemberian dari persahabatan saya Dina… saya lelang dengan memulai penawaran… dua ratus ribu…”
Kejadian selanjutnya mirip dengan yang pertama tadi, meskipun banyak orang yang berebut angkat tangan dengan aneka penawaran harga, tapi ujung-ujungnya justru si pemilik barang itulah yang memberi penawaran harga tertinggi. Sudah bisa dipastikan Dina mengambil jam tangan itu dengan perasaan senang.
Setelah itu si cowok menyebutkan barang pemberian Rina, Tina, Mirna dan yang lainnya. Ya, semua barang akhirnya terjual lebih mahal dari harga aslinya. Perkiraan si cowok tepat, uang lebih banyak terkumpul dan lebih mudah digunakan untuk pengembangan kegiatan OSIS serta berbagai macam kegiatan lainnya.
“Terima kasih ya, “ ucapku pada si cowok itu. Si cowok tersenyum setelah meyerahkan sejumlah uang.
Sementara kulihat keempat cewek kompak itu di pojokan sedang menimang barang-barangnya masing-masing.
“Kamu ternyata ngasih kado ya ke cowok itu?” ujar Mirna ke Dina.
“Kamu juga,” sergah Dina.
“Ssst, sudahlah, kamu juga ikutan ngasih kado, kan?” ujar Tina.
“Iya, berarti kita udah nggak kompak lagi. Diam-diam kita masih memperhatikan dia, memberikan kado, untung kadonya dilelang, jadinya ketahuan, coba kalo nggak dilelang, pasti diam-diam kita masih naksir terus ke dia,” beber Rina.
“Jadi gimana, dong?” tanya Dina
“Kita udah nggak jujur lagi. Percuma aja kompak-kompakan selama ini,” imbuh Rina.
Selanjutnya mereka berempat meninggalkan pojokan itu dengan langkah-langkah gontai. Hmm, apa yang akan terjadi dengan mereka? Apakah mereka akan bubaran setelah kejadian ini? Bercerai-berai untuk meneruskan persaingan mendapatkan perhatian si cowok cakep itu? Hmm, entahlah, yang jelas keempat cewek kompak itu terus saja melangkah.

***

Keesokan harinya, aku melihat keempat cewek itu tampil bersama dan nampak lebih heboh, mereka bergaya bak model-model majalah yang mau fashion show, bahkan sebelum sampai ke sekolah, keempat kembar siam itu, katanya mampir ke salon dulu untuk touch up! Wah, wah…
Di kantin, ketika hendak jajan, aku sempat berpapasan dengan Dina, dia bilang katanya genk-nya mau bersaing secara sehat dan alamiah, “pokoknya setiap hari tampil kinclong, ‘ntar siapa yang dipilih ama si cowok cakep, itulah yang beruntung,” terangnya. “Yyyuuukkk …!“
Aku cuma bisa melongo.

READ MORE - Kado Empat Cewek

cinta lokasi

Diposting oleh riska di 21.00 0 komentar
Sudah seminggu ini, setiap pagi cowok dan cewek itu duduk di bangku taman. Meski tak saling berpegangan tangan, mereka tampak akrab dan saling mencintai. Sebenarnya, sebagai penggemar olahraga pagi, sudah cukup lama mereka saling mengenal. Tapi baru seminggu ini mereka berpacaran. Mungkin, ini juga bisa disebut sebagai ‘cinta lokasi’. Benih-benih cinta muncul dan berkembang di lokasi di mana mereka hampir setiap hari berolahraga. Rupanya, dari seringnya mereka bertemu, bertegur sapa, dan berbicara, maka tumbuhlah rasa cinta di antara dua manusia itu. Maka di suatu pagi yang cerah, setelah selesai berolahraga pagi, Dicky –demikian nama cowok itu– mendekat dan langsung ‘menembak’; menyatakan cintanya pada Joan, si cewek. Meski dengan berpura-pura malu, Joan menerima cinta Dicky. Maka resmilah sejak pagi itu mereka ‘jadian’.

Pagi itu, dua sejoli itu duduk di bangku taman. Berdua mereka sedang merancang acara ulang tahun Dicky yang sekaligus akan dimanfaatkan sebagai pengumuman bahwa mereka benar-benar jadian. Mereka berencana akan mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah Dicky, dengan mengundang teman-teman sesama penggemar olahraga pagi di taman itu. Bagaimanapun, berakhirnya masa jomblo ini harus dirayakan. Sudah berbilang tahun Dicky dan Joan menjadi jomblo dengan kisah sedihnya masing-masing.

Setelah ditetapkan waktu dan berapa orang yang akan diundang, mereka berdua bangkit dan berjalan menuju mal tak terlalu jauh dari situ. Mereka hendak membeli perlengkapan pesta seperti piring karton, sendok garpu plastik, sedotan, balon udara, topi kerucut, kertas warna-warni, kue tart, dan juga lilin-lilin kecil sebanyak 79 batang.

Saat membayar di kasir, Dicky berbisik mesra di telinga Joan, “Pasti kasir itu menyangka, barang-barang yang kita beli itu untuk cucu-cucu kita.”

Joan tersenyum dan mencubit lengan Dicky. Sepasang kakek-nenek itu tampak mesra sekali.
READ MORE - cinta lokasi

Rabu, 20 Januari 2010

Cerpen Cinta

Diposting oleh riska di 22.08 0 komentar
                                      Tanpa Kekasih
 

Setalah genap sebulan aku jadian dengan Bayu, aku semakin yakin kalau aku nggak salah pilih dan benar-benar sudah menemukan belahan jiwaku, cinta sejatiku, cahaya hidupku, Bayu adalah segalanya bagiku. Aku mencinta dia dan akan selalu menyayangi dia untuk selamanya. Saat ini aku merasa puas karena penantian, dan usahaku selama ini berbuah kebahagiaan.

Telah sekian lama aku merasa menanti Bayu menjadi milikku seutuhnya. Akhirnya, cerita cintaku saat ini sudah happy ending, tingal sekarang aku dan Bayu yang menjalaninya. Dulu kami sering sekali bertengkar, hanya karena hal-hal kecil, kadang kami sampai ribut nggak menentu. Dulu sebagai teman, kami memang bukan teman yang cocok, kami saling menjatuhkan dan saling membenci. Tapi sekarang, benar kata orang-orang, kalau kamu membenci seseorang janganlah kamu sampai terlalu, dan hasilnya sekarang perasaan itu menjadi kebalikan bagi aku dan Bayu, justru kami sekarang saling mencintai dan menyayangi. Tapi yang jelas, aku juga nggak mau kehilangan Bayu, aku takut juga kalau aku terlalu mencintai dan menyayangi dia, bisa jadi aku dan dia akan terpisahkan.


“Hei Ela, kamu lagi ngapain? aku kangen deh sama kamu..”
“Halo Bayu, kan baru kemarin kita ketemu, kamu gimana sih?”
“Ela, kamu baik-baik ya di sana, jaga diri kamu dan jangan pernah lupakan aku ya sayang.”

“Kamu ngomong apa sih Bayu? Kamu ngigau ya?”
“Nggak, maksud aku yah kamu jangan macam-macam di sana, kan di kampus kamu banyak banget tuh cowok-cowok keren, ntar ada yang godain kamu lagi, trus kamu lupain aku.”
“Ha-ha.....ha-ha.... ya nggak dong sayang, aku nggak akan tergoda sama cowok-cowok di kampus ini, nggak ada yang kayak kamu di sini, dan yang aku mau tuh cuma kamu seorang.”

“Hei, kamu udah pintar ngegombal yah, siapa yang ajarin, ayo ngaku?”
“Bayu, kamu apaan sih?! Udah deh, aku mau kamu kasih aku kepercayaan untuk berteman dengan teman-temanku. Asal kamu tau aku berterima kasih banget selama ini sama Tuhan karena aku udah bisa memiliki kamu.”
“Iya Ela, dan asal kamu tau juga cintaku lebih besar dari yang pernah kamu bayangkan selama ini.”

Satu hal inilah yang selalu ditakutkan Bayu, dia selalu bilang aku akan tergoda oleh cowok-cowok di kampus, sementara aku nggak begitu? Justru akulah yang paling takut Bayu yang akan berpaling dariku, dia akan pergi meninggalkanku selamanya, dan cintanya hilang untukku. Bayu sekarang kerja di salah satu perusahaan asing terkemuka di kota ini, sebagai cowok kalau kita melihatnya dengan kesan pertama, dia adalah cowok yang diimpi-impikan semua cewek, karena Bayu punya segalanya, dengan modal wajah yang tampan, prilaku yang baik, kerja yang mapan, akupun takut dia akan pergi dariku, kalau seandainya ada cewek yang lebih menarik dariku, lebih sederajat dengan dia.

Bayu menggenggam tanganku erat sekali, aku merasakan kenyamanan saat dia memegang tanganku. Aku merasakan cintanya begitu kuat untukku. Saat kami masuk ke sebuah toko buku, Bayu bilang dia akan membelikan aku sebuah buku sastra yang dulu sudah pernah dibacanya dan sekrang dia ingin aku juga membaca buku itu. Setelah Bayu membayar buku tersebut, Bayu langsung menyerahkannya padaku. Aku kaget membaca sinopsisnya, ternyata buku itu berisi tentang kekuatan cinta yang tulus, yang akhirnya terpisahkan oleh maut, dan bagaimana sakitnya hati seorang kekasih saat menghadapi peristiwa kematian itu. 

“Bayu, kenapa kamu kasih aku buku kayak gini?”
“Ela, aku pengen banget kamu baca buku ini, karena kalau kamu baca buku ini, kamu bakal lebih mengerti lagi apa itu cinta sejati, kamu akan merasakan betapa sangat berartinya orang yang mencintai kamu, pokoknya ceritanya bagus deh, kamu pasti nggak bakalan nyesal kalau baca buku ini, dan setelah membacanya, aku juga yakin kamu akan semakin sayang sama aku, he-he... he-he ...”
“Ih, kamu!! Ke-GR-an banget sih kamu, masa cuma gara-gara baca buku ini aku bisa semakin sayang sama kamu.”

“Eh, benaran, percaya deh sama aku. Kalau nggak, ntar kamu boleh musuhin aku lagi deh kayak dulu.”
“Bayu!! Kamu ngomong apaan sih, ya udah-udah, aku baca bukunya, kamu kira aku bakalan senang yah kalau kita musuhan lagi.”
Bayu aneh sekali hari ini. Tadi siang dia ngomong yang nggak-nggak di telpon, dan malam ini dia juga menyuruhku membaca buku yang isinya aneh, tentang kematian. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, kata kematian terasa terngiang-ngiang di telingaku. Entah kenapa aku semakin ketakutan, takut akan kematian, takut akan kehilangan. Peganganku semakin aku kuatkan ke pinggang Bayu, aku peluk pungungnya dan aku sandarkan wajahku ke sana. Aku merasakan lagi kalau aku bersama Bayu, saat ini mungkin Bayu sedang tersenyum karena dia merasakan cintaku besar untuknya.
Sambil mengenderai motornya, sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihatku, Bayu seperti orang yang was-was. Aneh, di sepanjang jalan aku terus kepikiran. Dan akhirnya bunyi keras dan goncangan hebat membuat aku kaget, nggak hanya goncangan, tapi sakit yang luar biasa di kepalaku, aku merasakan pusing serasa dunia ini berputar sangat kencang sekali, penglihatanku kabur, aku berusaha untuk menyadarkan diriku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba aku melihat Bayu yang sedang tidur di jalanan, samar-samar aku melihat dia seolah-olah tidur nyenyak, aku merasa mimpi, mana mungkin Bayu tidur di jalan, perasaan baru tadi aku boncengan dengan dia. Aku berjalan mendekati dia, tapi orang-orang yang ramai lebih dulu menghampiri dia, aku semakin kesakitan, aku nggak kuat lagi dan akhirnya yang aku lihat hanya kegelapan.

“Ela, kamu nggak apa-apa sayang, ini Mama.”
Aku pandangi wajah Mama. Dia seperti orang yang ketakutan, aku melihat sekelilingku, tiba-tiba aku baru sadar, selintas kejadian tadi malam teringat lagi olehku.
“Ma, Bayu mana? Dia baik-baik aja kan?”
“Ela, nanti aja, kamu istirahat dulu, kamu masih sakit sayang.”
“Nggak Ma, Ela nggak merasa sakit apa-apa, sekarang Ela mau lihat Bayu, dimana dia Ma?”
“Ela, luka kamu belum kering betul, tadi kamu terus-terusan ngigau kalau kamu ngerasain sakit.”
“Ma, Ela nggak ngerasa sakit, benaran, nggak tau kenapa Ela ngerasa sehat dan kuat Ma, sekarang pokoknya Ela mau ketemu Bayu, pasti saat ini dia butuhin Ela banget.”
“Ela, saat ini Bayu nggak butuh siapa-siapa lagi, dia udah aman Ela, dia udah tenang di sana, sekarang udah bahagia dengan kehidupannya sendiri, ada yang menjaga dia di sana.”
“Apa? Apa Ma, maksud Mama? Mama bohong!! Ela nggak percaya, nggak mungkin, nggak mungkin itu terjadi sama Bayu, dia udah janji Ma nggak akan pernah ninggalin Ela, dia sayang Ela, Ela sayang Bayu Ma .... nggak, nggak mungkin....

Teriakanku membuat semua suster datang ke tempatku, mereka berusaha menenangkanku, tapi aku nggak bisa, air mataku mengalir terus tiada hentinya, salah seorang suster baru saja akan memberiku suntikan penenang, tapi cepat-cepat aku elakkan.
“Tolong jangan suster, saat ini aku nggak butuh itu, aku hanya ingin menangis, aku nggak rela, aku marah sama Bayu, kenapa dia berani pergi ninggalin aku, padahal dulu dia udah janji nggak akan pernah pergi dariku, tapi kenapa Bayu bohong, kenapa sekarang justru dia pergi selamanya, dan aku tau dia nggak akan pernah kembali lagi kan untukku? Kenapa kamu tinggalin aku Bayu?”

“Ela, ini udah takdirnya, waktu Bayu udah habis di dunia, kamu jangan pernah marah sama Bayu sayang. Kamu harus yakin kalau sekarang Bayu udah bahagia di sana.”
“Ma, kenapa justru Bayu, kenapa buka Ela aja yang ada di sana? Ela mau kok Ma, Menggantikan Bayu, karena Ela sayang sama Bayu Ma, atau biarkan Ela untuk bersama dia sekarang, Ela pengen menyusul dia Ma, Ela nggak mau hidup di dunia ini tanpa dia, percuma Ma, percuma kalau nggak ada Bayu di sini, hidup Ela nggak ada arti apa-apa.”

Dengan cepat suster-suster itu memegang seluruh tubuhku, dan sesaat kemudian aku tertidur, di alam mimpi Bayu datang padaku. Dengan pakaian yang serba putih Bayu tersenyum padaku, dia berjalan mendekatiku, dia kelihatan senang sekali, seolah-olah dia mendapatkan kebahagiaan yang baru, yang tiada duanya di dunia, melihat Bayu terus-terusan tersenyum, rasanya aku ingin sekali ikut bersama dia, ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Aku berusaha memeluknya dan menggenggam tangannya, dia membalas pelukanku, dia mendekapku, kembali aku meerasakan kenyamanan bersamanya, aku merasakan dia memberiku kekuatan, ketegaran, dia membelai rambutku dengan penuh rasa sayang, tapi pelan-pelan dia melepaskanku, dia justru menjauh dariku, semakin jauh, jauh dan hilang dari penglihatanku.

Saat aku sadar, aku menangis lagi, aku bukan menangis karena menahan sakit pada kepalaku, tapi aku menangis karena hatiku yang terasa amat sakit. Sekarang dunia bagiku terasa kelam, hujan nggak hanya membasahi bumi, tapi hujan membasahi kehidupanku, hatiku seolah-olah nggak berhenti menangis, menangisi orang yang telah pergi untuk selama-lamanya, dia nggak akan pernah kembali lagi.

Tiba-tiba mataku tertuju pada buku yang ada di atas meja, aku baru ingat kalau itu adalah buku yang dibelikan Bayu kemarin. Aku buka satu demi satu halaman buku itu, beberapa menit kemudian aku tenggelam dalam ceritanya. Aku menangis membaca buku itu, sekilas aku seolah-olah melihat wajah Bayu tersenyum di langit yang mendung di luar sana.

Entah kenapa sekarang aku kembali merasakan kekuatan itu, kekuatan cinta yang diberikan oleh Bayu, aku merasakan dia ada di dekatku, merangkulku, menenangkanku, aku dapat merasakan cinta dan sayangnya. Bayu, aku sangat mencintai dan menyayangi kamu, aku yakin kamu bahagia di sana, walaupun kamu sudah pergi dari kehidupanku, tapi kamu nggak akan pernah pergi dari hatiku, kamu abadi untukku, Bayu. Aku akan buktikan, kematianmu nggak akan pernah mengakhiri cintaku.
READ MORE - Cerpen Cinta

Cerpen Cinta

Diposting oleh riska di 21.59 0 komentar
                                   Cinta Pertama


Namun perasaan ragu selalu mendera hatiku. Akankah Adit punya perasaan yang sama denganku. Aku tidak mengenal baik Adit. Aku setahun lebih tua darinya. Status sosial keluargaku dan keluarga Adit bagaikan langit dan bumi. Ayah Adit seorang pengusaha sukses dan ibunya seorang guru. Sedangkan keluargaku adalah keluarga termiskin. Ayah tiada sejak aku masih kelas 1 SD. Ibuku kemudian berjualan kue-kue untuk menghidupi kami yang sehari hanya menghasilkan uang sekitar limabelasan ribu. Aku juga sering membantu menjualkan kue-kue ibuku ke sekolah. Namun semua itu belum cukup untuk membiayai ibu dan kami, empat bersaudara. Aku sendiri pernah diusir dari kelas karena belum membayar uang bulanan sekolah selama tiga bulan. Karena kondisi itu aku menjadi seorang yang pendiam dan rendah diri.

Kemarin tanpa sengaja aku bertemu dengan Doni ketika pulang sekolah. Doni adalah sahabat Adit sejak SD. Jika Adit adalah seorang yang pendiam, Doni seorang cowok yang supel. Hampir semua orang mengenalnya. Dengan senang hati Doni menawarkan boncengan motornya dan mengantarkanku sampai rumah. Di jalan Doni bercerita:
“Mbak, kemarin Adit cerita kalau dia sebenarnya naksir sama cewek di desa kita juga ini lho,” cerita Doni memanggilku dengan embel-embel Mbak, tradisi di desa kami untuk menghormati orang yang usianya lebih tua.
”Yang bener aja, Don? Emangnya siapa?” “Tak tahu juga mbak, Adit tak sebut nama,” “Iyakah? Tapi di desa kita ini ‘kan banyak ceweknya?”. 

“Iya juga ya mbak, and….kira kira siapa ya? Hayooo siapa………..?”
“Ooi oi siapa dia oh siapa dia,” Doni malah menyanyi seperti pembawa acara Kuis Siapa Dia di TVRI waktu kami kecil dulu.

Aku hanya bisa tersenyum kecil, namun tak urung percakapan tadi membuat aku punya harapan. Tapi, ah tak mungkin masih banyak teman-temanku yang lebih pantas untuk dijatuhin cinta sama Adit. Meski kami satu sekolah tapi di sekolah pun aku hanya bisa menatap Adit dari jauh, ketika tanpa sengaja aku bertemu dengan Adit di kantin, di perpustakaan atau ketika sama-sama nonton pertandigan olahraga di lapangan sekolah, Adit tak pernah berusaha menyapaku. Kalau aku menyapa Adit duluan, tengsin ah. Aku masih berharap Adit yang memulainya.

Hari sudah beranjak sore, ketika kudengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Segera kubuka pintu setelah terdengar ketukan. Ternyata Doni dan….Adit. Doni mau meminjam soal-soal ulangan umum sekolah. Kukernyitkan dahiku, aku heran, untuk apa bukankah dia lain sekolah denganku?.

“Ehm….tenang mbak, tenang. Bukan untuk aku ko, Mbak. Itu tu untuk Adit,” kata Doni seperti mengetahui keherananku. Kenapa sih tak mau bilang sendiri, toh udah di sini. Batinku agak kesal.

“Boleh kan Mbak, Mbak Tari yang baik…?” Aku melirik Adit yang hanya tersenyum tipis. Aku segera masuk rumah, dan mengambil lembaran soal-soal ulangan umum yang selalu kusimpan rapi tiap semesternya. Ketika kuberikan lembaran-lembaran itu, kubilang sama Doni agar nanti Adit yang mengembalikan sendiri. Doni hanya mengangguk.

****

Siang itu, ketika aku sedang ngobrol dengan temanku di halte, tiba-tiba …gedubrak….. terdengar suara seperti tabrakan. Kami terkejut, terlihat seorang pengendara motor yang nampak kesakitan jatuh terlempar beberapa senti dari motornya. Aku dan temanku segera menghampirinya. Orang-orang pun segera berhamburan menengoknya. Seketika jalan menjadi macet total. Beberapa orang segera mengangkat tubuh yang kesakitan itu ke halte. Kulihat darah keluar dari pelipis kanan dan siku tangan kanannya, dan ternyata dia adalah Adit. Namun tak lama polisi datang membubarkan kerumunan dan segera membawa Adit ke rumah sakit terdekat. Aku dan temanku menemaninya tanpa diminta.

Sesampainya di rumah sakit, Adit dibawa ke ruang gawat darurat. Polisi meminta sedikit informasi mengenai Adit. Aku mengatakan Adit adalah tetanggaku dan segera memberikan alamatnya. Polisi akan segera menghubungi pihak keluarga Adit. Lima menit kemudian temanku meminta pamit karena sudah terlambat pulang. Meski aku keberatan, kuanggukkan juga kepalaku.

Satu jam kemudian Adit di bawa ke ruang perawatan. Ruang itu terdiri dari empat tempat tidur ditata berjajar yang hanya dipisahkan oleh tirai putih. Adit mendapatkan tempat di dekat jendela. Kulihat Adit masih tertidur ketika perawat meninggalkan kami. Kamar ini hanya berisi aku dan Adit. Aku duduk di ranjang pasien sebelah tempat tidur Adit. Kutatap wajah Adit yang bagian pipinya masih lebam, pelipis dan tangannya dibalut perban, baju seragamnya telah berganti baju seragam rumah sakit. Kulirik jam tangan Adit, sudah hampir pukul 3 sore. Ke mana ya keluarga Adit, batinku. Aku turun dikursi dan kutelungkupkan kepalaku di ranjang. Di ruangan AC begini aku merasa ngantuk sekali.

Aku terkejut ketika perawat masuk membawakan obat untuk Adit, segera kuusap mukaku dan sedikit kurapikan rambutku. Kutengok Adit sudah terbangun, dan segera meminum obat yang dibawa perawat itu. Perawat kembali pergi setelah kuucapkan terimakasih kepadanya. Kami sama-sama saling terdiam tak tahu harus berkata apa. Beberapa menit berlalu, kucoba memecahkan kekakuan ini.

”Dit, gimana rasanya, apa sudah baikan?” tanyaku lirih, agak salah tingkah sambil kusandarkan badanku ke dinding jendela. “Lumayan Mbak, Mbak dari tadi nungguin aku ya?” tanya Adit lemah.
Aku hanya mengangguk. Kami sama sama terdiam lagi, meski aku sangat senang berada di sini bersama Adit, tapi rasanya lidah ini kaku untuk mengajaknya bicara.

“Oya, ke mana Ibu Adit ya, kok sampai sekarang belum datang juga. Tadi polisi menjemput ke rumahmu lho?” tanyaku sambil memainkan kakiku dengan sesekali menatap kepada Adit.

“Mungkin di rumah tak ada orang, Mbak. Ibu setiap hari ada jadwal kuliah. Biasanya sih pulang jam setengah enam. Adikku juga les bahasa Inggris. Paling Mbok Warti yang biasa bantu kami bersih-bersih rumah,” jawab Adit dengan lemah sambil memalingkan wajahnya sedikit ke arahku. Aku hanya bisa mengangguk-angguk dan kembali terdiam.
Ketika senja sudah beranjak pergi, kudengar langkah tergesa memasuki kamar. Ayah dan ibu Adit yang kelihatan sangat mencemaskan Adit, segera menghampirinya yang terbaring lemah. Baru setelah itu ibu menoleh kepadaku dan mengucapkan terima kasih. Tak lama berselang Doni datang dengan kecemasan juga, Doni tersenyum padaku sebelum menyapa Adit. Wah untung ada Doni, bisa minta tolong nganterin aku pulang. Aku sudah capek dan lapar, dan pasti ibu juga khawatir banget aku telat pulangnya. Segera kuberbisik pada Doni untuk mengantarku pulang. Dan ternyata Doni mengiyakannya. Aku segera berpamitan pada ayah ibu yang tak henti mengucapkan terimakasih kepadaku karena sudah menemani Adit, begitu juga Adit dengan diiringi senyum manisnya.
***
Seminggu berlalu sejak peristiwa kecelakaan itu, di suatu sore ketika aku sedang memarut kelapa di dapur bersama ibu, terdengar bunyi motor berhenti di depan rumah. Aku segera keluar setelah mendengar pintu rumahku diketuk. Adit, dia memberikan kue tart coklat yang cantik yang biasanya hanya bisa kutengok di etalase toko roti, sebagai rasa terimakasih dari keluarganya. Kata Adit, itu bikinan ibunya. Satu lagi, dia mengembalikan soal-soal ulangan umum yang dulu pernah dipinjamnya bersama Doni.

“Mbak ini sesuai janji Doni, kalau aku yang akan mengembalikannya sendiri,” kata Adit sambil menyodorkan soal-soal ulangan umum itu dan menatapku penuh arti. Aku salah tingkah, seumur-umur aku belum pernah ditatap orang seperti itu. Tatapan yang membuat aku besar kepala. Tapi Adit langsung berpamitan. Dan ketika akan kuletakkan kumpulan lembaran soal-soal itu sebuah kertas berlipat jatuh dari sela-selanya, mungkin punya Adit yang terselip di lembaran ini. Segera kuambil dan kubuka, kubaca tulisan di dalamnya:
To : Mbak Tari
Mbak, Adit suka sama Mbak. Rasa ini sudah lama Adit simpan. Bagaimanakah perasaan Mbak pada Adit. Maaf ya Mbak?
From : Raditya***
READ MORE - Cerpen Cinta

Cerpen Sahabat

Diposting oleh riska di 21.58 0 komentar
                                Sahabat, Apa Kabar?


“Anak-anak, hari ini kita akan belajar menulis dan menceritakan pengalaman yang berkesan bagi kalian, baik itu pengalaman yang menyedihkan, menyenangkan maupun yang lucu. Ibu akan minta kalian menulisnya di dalam buku latihan,” kata Bu Fani panjang lebar. Beliau adalah guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas kami, IX B.

Hari ini Bu Fani meminta kami menulis pengalaman yang berkesan di hati. Tapi aku masih bingung mau menulis apa. Teman-teman sudah mulai menulis, pena menari-menari di atas kertas mereka. Kelas hening. Semua khusuk menulis pengalaman masing-masing. Aku terus mencoba mengingat-ingat kejadian atau pengalaman yang pernah ku alami. Hmm, akhirnya … aku ingat pengalaman atau tepatnya cerita lucu sekaligus memalukan bagiku. Cerita itu terjadi satu tahun yang lalu di sekolah ini ketika ku masih duduk di kelas VIII. Aku mencoba mengingat dan menuliskan kejadian itu.

Hari itu kelas kami akan melakukan praktikum biologi. Seminggu sebelum itu, Bu Mely guru biologi sudah meminta siswa per meja untuk membawa tumbuhan berakar serabut dan berakar tunggang pada hari ini. Kami akan mempelajari dan menemukan ciri-ciri tumbuhan berakar serabut dan berakar tunggang.

“Naila, tumbuhannya mana ? Kok nggak dibawa,”tanya Sinta teman sebangkuku. “Memang kemarin aku berjanji akan membawanya?”

“Ups, aku lupa membawanya. Padahal aku sudah menyiapkannya,” jawabku sesal. Tadi, aku sengaja bangun pagi-pagi dan mencari tumbuh-tumbuhan itu di belakang rumah karena ku pikir jika aku mencabut tumbuh-tumbuhan tersebut sore harinya tentu ia akan layu. Eh, tapi malah ketinggalan.

“Lalu bagaimana ? Hmm …, cari saja di belakang sekolah. Tuh Nina sama Wanda juga nggak bawa. Pergi saja sama mereka,” usul Sinta. Aku pun bergegas pergi ke belakang bersama dua orang temanku itu.

Jam dinding di depan kelas telah menunjukkan pukul 07:20 WIB. Sepuluh menit lagi lonceng masuk akan dibunyikan. Aku sedikit tergesa-gesa mencarinya.

Setelah menemukan tumbuhan untuk praktikum, akupun langsung menuju jendela kelas tepat di meja nomor dua, barisan tepi dekat jendela. Aku dan Sinta duduk di situ. Dan langsung mengulurkan tumbuhan yang masih kotor itu ke dalam dan berteriak “Sinta, cepetan dong ambil ini, bahan praktikumnya.”

Tapi aneh, ia tak mengambilnya dari tanganku. Aku memang tidak bisa melihat ke dalam. Jendelanya terlalu tinggi. Itupun aku terpaksa bersijingkat. Aku makin kesal sudah dua kali aku berteriak tapi ia tak kunjung mengambilnya. Aku pun menggerak-gerakkan tumbuhan yang masih kotor itu. Tiba-tiba seseorang berdiri dan menjulurkan kepalanya ke jendela.

Lho ! bukan Sinta ya, kok cowok ? pikirku kaget. Setelah aku perhatikan ternyata itu bukan kelasku. Itu adalah kelas IX yang bersebelahan dengan kelasku.

“Woi, ngapain lh? Rambut gue kotor ini,” kata laki-laki itu seraya menepiskan tanah yang mengenai kepalanya. Aku tersentak dibuatnya dan langsung berlari menuju kelasku. Uh, kenapa aku bisa salah begitu? Padahal dua orang temanku sudah mencoba memberitahu tapi aku tidak begitu mendengar kata-kata mereka dan dengan percaya dirinya aku langsung berlari ke jendela itu. Nasib…, nasib…, batinku.

Tadi sebelum aku berlari meninggalkan jendela tersebut, aku sempat mendengar siswa di dalam kelas itu menertawakanku. Malunya …, untung saja tak ada guru di dalam. Jika iya, tentu aku akan merasa lebih malu lagi.
Setibanya di kelas aku langsung duduk di bangku dengan napas masih sesak.

“Kok seperti orang shock gitu sich. Habis dikejar monyet ya ?” gurau Sinta padaku.

“Eh Sin, kamu nggak tahu ceritanya sich. Lucu banget.” Kata Wanda yang masih senyum-senyum mengenang kejadian tadi. Nina dan Wanda mulai bercerita dengan semangatnya.

“Nggak usah diceritakan, malu tahu.” Kataku di sela-sela cerita Wanda yang diselingi ketawanya yang keras. Ku lihat Sinta pun ketawa ngakak mendengarnya.

Tapi itu semua bukan sekedar cerita atau pengalaman lucu dan memalukan bagiku. Ada hikmahnya juga lho. Aku dan teman-temanku jadi akrab sama dia. Aku baru tahu setelah kejadian itu kalau dia anak baru di sekolah ini. Lucu juga ya, kesan pertamanya di sekolah ini. Untung dia tak dendam walau rambutnya ku buat kotor.

Orangnya baik dan awalnya agak pendiam. Tapi setelah kita dekat sama dia ternyata orangnya rame juga. Sekarang dia menjadi sahabat baik kami. Ternyata benar ya.

Di balik suatu musibah itu pasti ada hikmahnya. Tapi itu bukan musibah bagiku tepatnya nasib sial dapat malu hari itu. Hmm … ketika aku ingat kejadian itu. Aku cuma senyum-senyum sendiri. Aku terlalu ceroboh dan tergesa-gesa waktu itu.

“Teng…teng…” lonceng berbunyi, menandakan kalau jam pelajaran bahasa Indonesia telah berakhir. Setelah memeriksa tulisanku, aku pun memberikan pada Bu Fani. Begitu juga dengan teman-temanku.

Aku merasa senang hari ini. Menulis pengalaman yang berkesan. Sebenarnya kejadian itu hampir terlupakan oleh ku. Padahal itu adalah cerita awal dimulainya persahabatan kami. Semenjak dia lulus dari sini, aku dan teman-teman sudah lama tak berhubungan dengannya. “Sahabat, apa kabar ? bisikku.
READ MORE - Cerpen Sahabat

Cerpen

Diposting oleh riska di 21.54 0 komentar
                                    Meniti Jejak Ibu


Hujan belum deras namun angin sangat kencang. Dinginpun mulai menusuk tulang. Tapi cuaca ini tidak mempengaruhiku untuk segera meninggalkan jendela kamarku. Aku senang berdiri di sini. Mengamati banyak hal. Mobil-mobil yang sibuk berpacu di jalan raya sebelah utara, perkampungan kumuh yang sangat kontras dengan lingkungan kami di sebelah timur, juga kanak-kanak yang sibuk berlari-lari di jalan depan rumahku. Dari jendela ini aku bisa menyaksikan semuanya. Termasuk mengulang kembali memori setahun yang lalu.

Seperti saat ini, Ramadan tahun lalu pun aku suka berdiri di jendela ini sambil menunggu waktu berbuka. Tentu aku tidak sendiri. Ada Kak Icha yang selalu di sampingku. Setelah selesai memasak, dia selalu menawarkan diri untuk menemaniku berdiri di jendela ini. Dan aku tidak pernah keberatan. Kak Icha orangnya asyik. Dia sangat pandai berkisah. Mulai dari kisah-kisah teladan yang berlatar belakang agama, kisah-kisah lucu hasil imajinasinya sendiri, juga kisah kehidupan orang lain. Yang penting ada manfaat dari kisah-kisah itu.
Dari sekalian kisah yang pernah dituturkan, perjalanan seorang anak mencari ibu kandungnya-lah yang paling sering diceritakan Kak Icha padaku.

“Dengan harapan untuk bertemu ibunya itulah yang membuat dia mau meninggalkan ayahnya, satu-satunya orang yang paling disayanginya.” Kisahnya suatu senja. 

“Ayahnya yang semula kukuh tidak mau melepasnya pergi akhirnya luluh melihat keinginannya yang begitu besar untuk bertemu ibunya. Pada seorang teman, ayahnya menitipkannya agar diantar ke tempat yang dituju. Keinginannya cuma satu; bertemu ibunya.

Tetapi ternyata jalannya berliku. Keluarga teman ayahnya yang semula baik tidak mengizinkan dia pergi. Mereka butuh dia, tepatnya, tenaganya. Karena pada saat dia datang, kebetulan pembantu keluarga itu pergi. Jadilah gadis itu tertahan di sana untuk jangka waktu yang tidak pasti.

Karena teman ayahnya memiliki informasi tentang ibunya, ia mencoba bertahan tinggal di sana walau sebenarnya tidak betah. Namun penantiannya seperti sia-sia. Teman ayahnya tidak pernah memberi tahu apapun tentang ibunya. Maka mulailah dia mencari tahu keberadaan ibunya sambil tetap tinggal di situ. Tapi lambat laun, sikap anak lelaki teman ayahnya itu membuat dia harus pergi.
Suatu malam dia bangun untuk Tahajud. Selesai wudhu dia langsung salat. Gadis itu lupa mengunci pintu kamarnya. Selesai salat dia hanya tertegun mendapati seorang laki-laki duduk di dipannya sambil mengepulkan asap rokok. Anak laki-laki teman ayahnya.

Dengan baik-baik dia meminta laki-laki itu untuk keluar, namun permintaannya tidak digubris. Laki-laki itu hanya menyeringai sambil memainkan kunci dan memasukkan ke kantongnya. Laki-laki itu menuntutnya ‘balas jasa’ karena telah ditampung dengan gratis dalam keluarganya. Sang gadis menolak. Lelaki muda me-radang. Dia melompat, menerkam, seakan ingin menelannya mentah-mentah. Gadis itu membela diri. Dia menendang, mencakar dan berteriak. Semua anggota keluarga rumah itu terbangun. Mendobrak pintu dan mendapati kamar yang berantakan dan dia yang acak-acakan.

Tapi tidak ada yang membelanya. Semua menuduhnya jalang. Dia yang merangsang. Dia yang mengundang. Sebuah tuduhan yang sangat menyakitkan. Sakit hati direndahkan membuat dia memutuskan pergi dari rumah itu malam itu juga, walau tidak tahu harus ke mana.
Nasib baik mengikutinya. Keesokan harinya, di terminal bus dia berkenalan dengan seorang aktivis. Dia diajak ke rumah singgah. Di sana dia menetap beberapa waktu sambil terus mencari informasi tentang ibunya. Sampai akhirnya dia menemukan ibunya di sebuah rumah besar sebagai istri seorang pengusaha. Dia tidak pernah bisa memeluknya – seperti impiannya – karena dia tidak mau merusak keluarga bahagia tersebut.

Rasa untuk bisa berdekatan mendorongnya untuk masuk ke dalam rumah itu. Ia bekerja di sana. Menjadi pembantu di rumah ibunya sendiri. Dia tidak pernah menyesali pilihannya tersebut. Itu adalah satu-satunya cara agar dia bisa bersama-sama ibunya. Sehari-hari dia memasak untuk ibunya, mencuci pakaiannya, membersihkan rumahnya. Melihat perempuan itu tersenyum dan tertawa. Dan dia ikut tertawa walau hatinya menangis. ‘’Dia ingat ayahnya yang tinggal sendirian dengan kondisi fisik yang cacat, sakit-sakitan dan hidup pas-pasan.’’ Kak Icha berhenti bercerita, memandang kosong ke depan dan menyeka air matanya.

Aku tertegun. Kisah yang mengharukan dan aku ikut terombang-ambing di dalamnya. Yang membuat aku heran, Kak Icha selalu menangis setiap bercerita tentang kisah ini tetapi kenapa dia suka mengulang menceritakannya.
Begitulah sepanjang Ramadan. Kami ngabuburit sambil berkisah di jendela kamarku.

Jauh hari sebelum lebaran, Kak Icha pulang kampung. Dia ingin menemui ayahnya yang sakit. Dan ada janji yang harus dia tepatinya pada seseorang, katanya. Entah janji apa. Dia hanya tesenyum saat menyampaikannya. Apapun keadaannya, dia berjanji akan kembali. Kami sangat kehilangan. Kak Icha pribadi yang menyenangkan. Dia sudah seperti keluarga kami sendiri. Kami sama-sama merindukannya. Hingga suatu hari aku menemukan catatan harian Kak Icha di kamar adikku.

Waktu itu adikku masuk kamar Kak Icha untuk sembunyi dari Hani, teman bermainnya hari itu. Ketika Hani menemukannya, mereka melanjutkan permainan di kamar itu. Mereka saling melempar bantal. Ketika itulah sesuatu melayang dari dalam sarung bantal. Sebuah catatan harian! Adikku memungutnya. Dengan alasan tertarik dia menyimpannya dan ingin membacanya sampai tuntas sebelum Kak Icha kembali.

Keingintahuan inilah yang menjadi awal petaka di rumah kami. Ternyata kisah yang selama ini diceritakan padaku adalah kisahnya sendiri. Dia meninggalkan ayahnya untuk mencari ibunya yang telah meninggalkannya sejak kecil. Dan dia telah menemukannya. Ibunya adalah mamaku!

Papa tidak bisa menerima semua ini. Walau mama sudah minta maaf, papa tetap merasa dibodohi oleh kebohongan mama selama ini. Sebelum menikah mama memang mengaku janda. Tapi tanpa anak. Kenapa sekarang muncul Kak Icha sebagai anak mama? Papa tetap tidak terima sekalipun mama mengaku terpaksa berbohong karena ingin menutup masa lalunya. Suami pertamanya cacat fisik setelah jatuh dalam sumur ketika memperbaikinya. Mama tidak sanggup hidup miskin dan mengurus suami yang sakit-sakitan.
S

ejak itu rumah kami tidak lagi nyaman. Sehari-hari selalu terdengar teriakan papa. Papa jengkel pada mama dan kami ikut kena imbasnya. Kadang papa meradang tak karuan. Menendang ini, menendang itu. Mama sesekali juga balas berteriak. Kami – anak-anak – menjadi penonton yang tidak tahu harus berkomentar apa. Anehnya, walaupun semua keributan ini disebabkan adanya Kak Icha dalam keluarga kami, aku tetap merindukannya. Bukankah dia sudah berusaha menyembunyikan identitasnya selama ini. Atau aku rindu padanya karena kami bersaudara. Entahlah.

Tak sampai seminggu sejak kejadian itu, Kak Icha sudah kembali. Dia ingin lebaran bersama kami, katanya di telepon. Ketika turun dari ojek, di depan rumah kami, Kak Icha langsung melambai pada aku dan mama yang duduk di teras sore itu. Dia tersenyum seperti biasa. Aku gugup dan tidak balas melambai walau sangat ingin. Mama menjadi kaku seperti batu. Aku membayangkan mama akan memeluk Kak Icha dan minta maaf padanya. Waktu aku berpaling menatap mama, yang kudapati justru wajahnya semakin menegang seakan mau pitam.

“Assalaamualaikum, Bu…” Kak Icha mengulurkan tangannya. Ketika melihat mama bangkit, aku yakin mama akan memeluknya. Perkiraanku meleset. “Plak!” Mama menampar Kak Icha. Gadis itu meringis sambil memegangi pipinya. Aku terkejut hingga spontan menutup mulut.

“Kamu pikir kehadiranmu di sini akan membuat aku bahagia? Tidak Icha! Kamu hanya masa laluku yang sudah kukubur dalam-dalam. Kenapa kamu datang ke sini? Mau menghancurkan keluargaku? Sekarang pergi! Pergi…!”

Mama marah-marah, menyumpah-nyumpah. Kak Icha yang semula bingung mulai paham dengan keadaan. Sambil menangis dia memeluk kaki mama, “Ini Icha, Bu. Anak ibu! Setelah ini Icha akan pergi dari kehidupan ibu. Icha hanya ingin ibu datang saat…”
Belum selesai dia berkata-kata, mama menjambaknya. Mendorong tubuhnya ke halaman. Lalu masuk ke dalam dan kembali lagi dengan kardus berisi barang-barang Kak Icha. Sambil melemparkan diary Kak Icha, mama kembali berteriak, “Pergi dari sini. Ingat! Kamu hanyalah bagian dari masa laluku! Aku tidak ingin kamu datang lagi dan merusak kehidupanku. Kamu… kamu hanya anak seorang laki-laki miskin yang tidak bisa memberiku apa-apa!”

Aku hanya terdiam. Tidak menyangka mama akan berucap seperti itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sebelum pergi, Kak Icha meninggalkan sesuatu.

* * *

Satu tahun sudah berlalu. Mama dan papa tidak pernah akur lagi walau mereka juga tidak bercerai. Dan aku masih merindukan Kak Icha. Senyumnya, perhatian-perhatiannya padaku, juga kisah-kisah yang dulu sering dituturkan. Aku ingin Ramadan kali ini Kak Icha ada di sini. Tapi itu jelas tidak mungkin. Aku kembali memperhatikan undangan pernikahan yang ada di tanganku. Undangan ini ditinggalkan Kak Icha sewaktu mama mengusirnya. “Icha hanya ingin ibu datang pada hari pernikahan Icha…” Itu kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum dia pergi. Dan mama benar-benar tak pernah datang. Mama benar-benar telah menghapus Kak Icha dari hidupnya.
READ MORE - Cerpen

Cerpen

Diposting oleh riska di 21.53 0 komentar
                Sebuah Penantian (Untukmu Sobat)


Sepertinya cuaca pagi itu agak mendung, membuat semua aktivitas yang akan dilakukan menjadi kacau sedikit. Gemuruh petir terasa menggetarkan tanah jelas di relung hati setiap insan. Langit yang memerah terus mengeluarkan tetesan air dari perutnya, dari pagi hingga sore. Saat itu juga tampak seorang gadis berseragam SMA berteduh di halte bis sambil menunggu hujan reda, ia mengambil sebuah handphone Nokia di tasnya. Ditulisnya sebuah pesan singkat kepada seseorang. Tidak lama kemudian sebuah mobil Mercedes hitam mendekati gadis itu, terlihat seseorang berpakaian polos dan sederhana.

“Kenapa lama sekali, aku seperti di dalam kulkas karena kelamaan menantimu,” rengut gadis berseragam SMA itu.
“Maafkan aku Ima, kamu tahu sendiri ‘kan, Jakarta itu macet.”
“Sudah tahu Jakarta itu macet kenapa tidak pergi dari awal,” balas Ima lagi, ketus.
“Sudahlah Ma. Aku tadi ada kerjaan sedikit makanya aku telat.” Tara berusaha menenangkan Ima yang lagi kesal.
“Bisa kita pulang sekarang?” tanya Tara kepada sahabatnya.
“Kapan lagi. Tahun depan!” cetus Ima. 

Tidak berapa lama kemudian mereka pun meluncur menembus hujan yang begitu deras. Sampai di rumah, Ima langsung mengganti pakaian tanpa terlebih dulu makan siang. Dia langsung menuju ke belakang rumahnya dan menuju ke sebuah lapangan basket. Diambilnya bola basket yang berada di bawah kursi. Lalu ia lempar hingga menembus keranjang basket. Hujan pun semakin lama semakin bersembunyi di balik awan. Kini tinggal tetes air kecil yang turun bergantian. Ima terduduk lelah dan terdiam di lapangan itu. Pikirannya kacau, bayangan Arjuna, sahabat kecilnya, bermain-main di benaknya. Seketika ia teringat akan kenangan manisnya bersama sahabat kecilnya itu. Tanpa ia sadari air matanya menetes seiring gerimis saat itu. Masa lalunya sangat pahit untuk diingat dan terlalu manis jika dilupakan.

Saat ia telah mengeluarkan air matanya, sebuah panggilan halus didengarnya sehingga ia sadar dari lamunannya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya perempuan tua itu lembut.
Dia hanya diam. Bibirnya sulit mengeluarkan sepatah katapun. Tubuhnya kaku.

“Sudahlah Nak. Jangan kau terus menyiksa dirimu seperti ini. Nanti kau sakit,” lanjut perempuan tua itu sedih.
“Aku sudah terlanjur sakit, Bu. Hatiku sudah hancur seperti puing-puing yang tak tersisa lagi,” ratap Ima.
“Kau masih punya ibu, Nak. Ibu tidak akan membiarkan kau terus-terusan begitu,” balas ibunya dengan air mata yang berguguran.

***

Malam itu Ima tidak keluar dari kamarnya. Kata-kata Arjuna selalu terngiang di memorinya. Sebuah janji yang terucap dari mulut mungil laki-laki itu, selalu ia nantikan.

“Tiga hari lagi ulang tahunku. Aku tahu Arjuna pasti datang untuk menepati janjinya. Dia akan kembali untukku,” pikirnya sedih. Memang semenjak Arjuna pergi ia selalu murung.

Malam semakin larut. Angin-angin malam yang mengerikan terus menusuk pori-pori setiap orang yang menikmatinya. Suara jangkrik makin riang, tapi burung hantu berhenti menangis. Ima telah terlelap dalam tidur.
Pagi hari, gadis berkulit sawo matang itu berangkat ke sekolah. Tiba di sekolah, seorang gadis sebaya dengannya menghampiri. Seperti biasa Tara selalu menasehati Ima. Memberi penjelasan dan berusaha meyakinkan Ima tentang Arjuna. Baru saja Tara memulai pembicarannya, ia telah disemprot Ima yang masih jengkel.

“Aku sudah katakan! Arjuna itu masih hidup. Dia akan datang di hari ulang tahunku,” katanya yakin.
“Ima, kau jangan gila. Arjuna telah mati. Bencana itu telah merenggutnya. Kau harus menerima kenyataan ini,” kembali Tara menjelaskan.

“Terserah kamu berkata apa. Aku yakin dia pasti kembali. Itu janjinya!”
“Kau harus sadar Ma! Mana mungkin orang yang sudah mati hidup kembali,” jelas Tara dengan sedih.
“Tidak… sebelum aku melihat mayatnya aku tidak akan percaya,” Ima bersikeras menentang kata-kata Tara.
Tara pasrah. Tak tega lagi melihat sahabatnya itu terus-menerus menderita. Apa yang harus kulakukan Tuhan? Bukakan pintu hatinya. Yakinkan dia bahwa Arjuna telah tiada….

***

Hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu Ima. Sebelum acara ulang tahunnya dilaksanakan, ia telah mempersiapkan segala keperluan dengan baik. Kue telah ia hias secantik mungkin. Saat itu semua teman-temannya telah hadir dan acaranya akan segera dimulai. Tapi wajah Ima tampak cemas, gelisah. Ia mondar-mandir di depan pintu rumahnya. Seperti sedang menanti seseorang. Setengah jam berlalu. Tapi acaranya belum juga dimulai, karena teman-temannya telah lama menunggu, hampir membuat semuanya cemas. Tapi Ima tetap menanti seseorang, yaitu Arjuna.

Tara ikut gelisah. Dia panik! Apa yang harus dilakukan. Terpikir olehnya untuk membuka TV yang berada di sudut ruang tengah itu, dengan harapan agar teman-temannya tidak bosan menunggu. Tapi saat memencet remote TV, berita korban tsunami dan gempa susulan banyak memakan korban lagi. Tara segera memanggil Ima dan…

“Ini tidak mungkin Ra! Arjuna pasti tidak ada di situ.” Teriak Ima sedih ketika melihat tayangan itu.
Semua temannya terkejut dan menatapnya tajam dan penuh tanda tanya.

“Ini kenyataan Ma. Semua orang yang ada di Aceh, telah meninggal semua,” jelas Tara prihatin.
“Aku tidak percaya… Arjuna telah berjanji kepadaku dan aku akan me-nantinya,” ia kembali histeris.
“Ima kamu harus sabar! Aku yakin jika Arjuna melihat kamu begini, ia pasti sedih. Lebih baik kamu mendoakannya.”
“Tidaaak!!!”

Ia lari meninggalkan acaranya. Air matanya satu per satu membasahi pipinya. Langkahnya semakin lama semakin pelan dan terhenti. Nafasnya berburu kencang. Jantungnya berdetak cepat. Sepertinya ia merasa telah jauh alam yang tengah ia rasakan sekarang.

Ia terduduk lemah memandang langit yang kelam. Isak tangisnya terus berjalan. Dalam menangis sesosok bayangan putih melintas di depannya. Ia tersentak, mulutnya spontan mengucap nama Arjuna dengan gemetar.
Bayangan itu makin lama makin jauh. Tersenyum manis kepada Ima. Meninggalkannya dalam kesendirian. Ia terus terpaku dan tak dapat mengedipkan mata. Setelah bayangan putih itu lenyap ditelan kabut ia kembali memejamkan mata dan menangis.

“Aku telah rela melepaskanmu pergi untuk selamanya. Meski hal ini sangat menyakitkan bagiku. Aku ikhlas…” ucapnya lirih.

Angin bertiup sepoi-sepoi, satu per satu lembar-lembar daun cemara gugur di depannya. Ia meraih ranting, lalu di tulisnya sebait puisi.
Detik-detik berlalu
Musim semi pun akan berganti
Angin sepoi pun telah merayu
Tapi penantianku
Selalu hidup untukmu….

Untuk terakhir kali ia menjerit menyebut Arjuna melepaskan suaranya ke udara. Suaranya menggaung. Kini penantiannya pun telah berakhir. Mungkin janji tak selalu harus ditepati tapi sahabat sejati selalu tetap di hati.
READ MORE - Cerpen
 

Icka_TKJ Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal